Karya
dan pembaca
Huah, lama juga Thor bermeditasi 𝩀
Beberapa waktu lalu, Thor dapet curcolan dari salah seorang penulis. Sebenarnya
masalah yang dialami sedikit klise,
sih. Tapi, justru memang masalah ini kalau tidak ditangani dengan bijak, dapat
mematikan semangat penulis. Yah, karena dunia literasi itu kejam.
Sebenarnya dunia manusia juga kejam
wkwk.
Begini katanya, “saya sebenarnya punya
waktu banyak untuk menulis. Hanya saya takut, pembaca tidak akan suka dengan
tulisan saya.”
Nah, klise
‘kan?
Tapi Thor juga paham, menjadi penulis
hebat tidak hanya memikirkan karya, tapi pasti akan terlintas minat pembaca.
Tentu kebanyakan penulis yang baru merintis, memiliki ketakutan tersendiri.
Nah, bagaimana mengatasinya?
Kalau menurut Thor, yah. Kalau kamu
memang tujuan menulis untuk menyalurkan hobi, ya nulis aja. Ada yang baca syukur,
nggak juga no problemo.
Memang beda sih, kalau tujuannya lebih
dari hobi. Misal kamu termotivasi oleh penulis favorite, agar bisa menjadi
mereka. Atau bahkan lebih. Nah, ini yang susah. Apalagi kalau kamu pesimis di
awal.
Terus,
Thor. Aku kudu ottoke?
Sebelum menjadi penulis, pasti kamu
adalah pembaca setia. Ya, itu pasti. Maka, lestarikan saja hobimu yang satu
itu. Gunanya apa? Kamu bisa belajar, dari penulis ternama, apa yang menjadi daya tarik tulisan mereka. Bingung? Mari
kita simulasikan.
Contoh begini. Kamu membaca novel Tere
Liye. Selain membaca, kamu juga harus riset. Kira-kira, kenapa buku ini menjadi
se-best seller itu? Mungkinkah
penyampaian cerita, penggunaan deskripsi yang rinci, atau ide yang anti
mainstream?
Dan jangan cuma baca satu buku. Kamu
harus rajin membaca. Kalau tidak punya uang untuk beli buku, ‘kan bisa ke
perpustakaan daerah atau sekolah. Mungkin baca-baca cerpen atau karya gratis
lainnya di internet juga boleh.
Loh,
Thor. Katanya suruh baca karya penulis ternama.
Harusnya sih, gitu. Tapi, misal lagi
nggak punya uang, tapi punyanya kuota, menurut Thor sah-sah aja.
Kualitas bacaan yang menjadi makananmu
itu, sebenernya nggak perlu yang dari penulis ternama juga. Kamu bisa cari
bacaan yang viewersnya banyak, atau peminatnya bejibun.
Belajar itu bisa dari mana aja, asal
kamu niat. Seperti beli buku mahal, tapi nggak dibaca, ‘kan percuma. Intinya
sih, niat.
Kembali ke topik bahasan awal, tentang
pesimisme penulis. Yang bisa menyemangati penulis, ya diri sendiri. Nggak perlu
menengadah lihat ke atas terus. Ingat, semua perlu proses. Seorang penulis,
tidak mungkin langsung jadi terkenal. Usaha, dan bangkit tiap kali jatuh.
Ingat kata Thor yang satu ini.
“Sebagus apapun karya, pasti ada yang tidak
suka. Dan sejelek apapun karya, pasti ada pembaca. Nikmati setiap prosesnya. Jika
terus takut dan tidak mau mencoba, kapan mau suksesnya?”
Intinya, be yourself. Jadi dirimu sendiri, tulis apa yang kamu sukai, apa
yang kamu ingin ceritakan. Soal teknik cerita dan pembaca? Bisa sambil jalan.
Karena menulis itu, kalau terus ditunda, justru ide yang kamu punya akan
berlumut. Siapa tahu, idemu malah dipakai orang nantinya. Nah, nyesel itu
selalu belakangan. Buahaha XD
Lalu, jika ada yang mengkritik dalam
bentuk sindiran. Senyumin aja. Jangan lupa bilang terimakasih. Karena dari
mereka, kamu bisa belajar juga. Belajar sabar jika suatu saat kamu terkenal dan
ada haters yang iri pada karyamu.
Belajar memperbaiki tulisan dari sindiran yang didapat.
Sekian, semoga sukses guys.
- Proses itu dinikmati, bukan
dipikirkan terus-menerus. Jangan mau jadi gila sebelum sukses. Raih saja
mimpimu. –
Author Kece, XOXO

Belum ada tanggapan untuk " "
Post a Comment